Mana sih yang lebih sulit, mempercayai atau dipercayai ? Menurut saya, dua-duanya sama-sama sulit. Kepercayaan itu bukanlah hal yang mudah karena melibatkan setidaknya dua pihak yang belum tentu memiliki visi, misi dan kondisi yang sama. Kalau kepercayaan itu hanya melibatkan satu pihak saja, maka tidak akan sulit. Tidak mengherankan jika ada yang mengatakan kalau kepercayaan itu ibarat kertas, yang jika sudah pernah kusut maka tidak akan pernah bisa kembali lagi licin seperti semula. Saya sangat setuju. Lalu, apa sih hubungannya antara kepercayaan dengan film Dawn of the Planet of the Apes (DotPotA) yang akan saya review kali ini?. Sebagai sekuel lanjutan dari cerita Rise of the Planet of the Apes (RotPotA), DotPotA mengajarkan banyak hal tentang kepercayaan.
13 Agustus 2014
4 Agustus 2014
Damien : Omen II (1978)
Baru saja beberapa hari yang lalu, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Fitri. Jadi, sebelumnya perkenankan saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Sudah menjadi tradisi, lebaran di Indonesia di isi dengan libur yang panjang. Semua instansi pelayanan publik hampir semuanya tutup dan memberikan kesempatan pada para pekerja untuk libur dan mudik ke kampung halaman. Demikian juga di tempat saya bekerja, saya mendapat libur selama 1 minggu. Tapi seperti yang sudah-sudah, hampir sebagian besar waktu libur lebaran hanya saya habiskan di rumah. Maklum, pembantu sedang mudik plus seekor anjing peliharaan saya yang tidak mungkin saya titipkan. Koq malah jadi curhat? Hehehe.. Oke langsung saja, saya akan membagi satu film horor yang menemani saya menghabiskan waktu libur lebaran kemarin, Damien (Omen II).
29 Juli 2014
Rise of the Planet of the Apes (2011)
"Bagaimana bisa saya melewatkan film ini begitu saja?". Itu adalah pertanyaan yang timbul dalam benak saya, setelah menonton Rise of the Planet of the Apes (RotPotA). Bagaimana tidak terlambat, film ini sudah dirilis sejak tahun 2011, sedangkan saya baru menontonnya di pertengahan Juli 2014, tepat 4 hari sebelum saya menonton sekuel lanjutannya, Dawn of the Planet of the Apes (DotPotA). Tapi alih-alih terlambat, lebih baik terlambat daripada melewatkan film ini begitu saja. Menonton RotPotA adalah suatu kesempatan buat saya untuk menilik kembali di mana sebenarnya rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh mahluk yang katanya berakal budi dan paling mulia di dunia ini, siapa lagi kalau bukan kita-kita ini, manusia. RotPotA seakan menampar muka saya, hingga malu dan membalikkan posisi manusia sebagai mahluk di dunia yang paling rendah karena tidak manusiawi. Duuhhh, kejam sekali ya ternyata manusia itu >_<.
22 Juli 2014
Hear Me aka Ting Shuo (2009)
Minggu yang lalu adalah minggu keberuntungan buat saya karena mendapat hibahan beberapa keping judul dan kotak DVD film, hip..hip..hurraayy sambutku kegirangan. Yang sering-sering ya pikirku :p #sambil ngarep lagi. THANK YOU buat hibahannya yaa hehe... Nah, diantara kepingan DVD itu, ada 1 film yang judulnya sudah menarik perhatianku sejak pertama kali melihatnya, judul filmnya Hear Me. Dan setelah menontonnya, saya sempat termenung dan tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata sebuah film itu tidak perlu banyak suara untuk bisa dikatakan bagus. Yaaa, bisa dikatakan film yang juga berjudul Ting Shuo dalam bahasa Taiwan ini hanya memiliki sekitar 30% suara dari keseluruhan film saat berdialog. Lho koq bisa? Ya karena karakter utama dalam film ini adalah penderita tuna rungu. Jadi dialog yang terjadi di dalam Hear Me mayoritas dilakukan dengan bahasa isyarat (tanpa suara). WoooW
17 Juli 2014
OCULUS (2013)
Bingung juga nih harus memulai review OCULUS dari mana. Soalnya jujur ya, kecewa banget rasanya setelah menonton film ini, padahal dari awal sejak OCULUS ditayangkan di Indonesia (sekitar bulan Mei 2014), saya sudah semangat 45 untuk menonton di bioskop. Tapi setelah membaca beberapa pendapat yang kurang positif tentang OCULUS di dunia maya, saya memilih untuk menonton dari DVD saja. OCULUS bercerita tentang sebuah cermin antik berbingkai ukiran kayu dan sangat cantik. Tapi, cermin ini menyimpan kutukan untuk setiap orang yang pernah memilikinya. Tanda tanya besar mengenai asal-usul cermin dan penyebab cermin ini menyimpan kutukan, sampai akhir film juga tidak terjawab, padahal itu menjadi satu pertanyaan besar yang sangat mengganggu saya.






